KPH Purbodiningrat dan GKR Maduretno Ikut Donor Darah di GKJ. Patalan Bantul

Darah Keluarga Kraton Yogyakarta Mengalir di Bantul

Memperingati hari ulang tahun ke-88 jemaat GKJ Patalan menggelar kegiatan sosial donor darah, bertempat di GKJ. Patalan Bantul, Selasa 12/3/13.

KPH. Purbodiningrat

KPH Purbodiningrat saat melakukan test darah di GKJ Patalan Bantul

Donor darah yang dilakukan GKJ. Patalan Bantul tidak hanya diperuntukan kepada jemaatnya saja. Sebab, kalangan umum pun bisa melakukannya. Tak heran, pada donor darah yang digelar Selasa (12/3/13) kemarin, ada juga yang berasal dari luar gereja. Salah satunya adalah KPH. Purbodiningrat dan GKR. Maduretno.

Seperti pendonor yang lain, KPH Purbodiningrat dan GKR Maduretno juga mengisi formulir yang disediakan PMI Kab. Bantul. Setelah itu diperiksa kesehatannya, darah dan berat badannya. Setelah dinyatakan sehat, maka dipersilakan untuk menuju ruang donor. Namun Kali ini terpaksa KPH. Purbodiningrat tidak bisa turut mendonorkan darahnya karena menurut pemeriksaan HBnya mencapai 18,3 sementara untuk HB yang diperkenankan adalah 12 s/d 18 untuk maksimalnya. Namun begitu, GKR. Maduretno istri dari KPH. Purbodiningrat masih diperkenankan mendonorkan darahnya karena HBnya tercatat pada angka 13.

KPH. Purbodiningrat menyemangati Istrinya GKR. Maduretno yang tersenyum bangga mendonorkan darahnya

KPH. Purbodiningrat menyemangati Istrinya GKR. Maduretno yang tersenyum bangga mendonorkan darahnya

Kegiatan ini bekerjasama dengan palang merah Indonesia Kabupaten Bantul, menurut ketua panitia Dita Wisnu MK. Mengatakan bahwa dalam rangka memperingati HUT ke-88 GKJ Patalan Jetis Bantul, berbagai kegiatan digelar diantaranya donor darah, Jalan Sehat, Lomba Tumpeng, Lomba Kupas Kacang, Lomba Cerdas cermat, Lomba Menyanyi Tunggal, Lomba Macapat dan Ibadah Syukur untuk para warga jemaat GKJ Patalan mulai dari anak-anak sampai lansia. “Ini merupakan pelayanan kongkrit yang kami lakukan untuk jemaat dan masyarakat,” katanya menjelaskan, “kami berharap melalui kegiatan ini akan mendorong bagi warga gereja untuk turut berpartisipasi meningkatkan solidaritas kemanusiaan” lanjutnya disela sela kegiatan donor darah.

KPH. Purbodiningrat menyerahkan kenang-kenangan kepada peserta lomba jalan sehat

KPH. Purbodiningrat menyerahkan kenang-kenangan kepada peserta lomba jalan sehat

Setelah Donor Darah, acara dilanjutkan dengan pembagain beberapa Lomba dan Doorprize lomba jalan sehat. Seluruh jemaat dari anak-anak Sekolah Minggu, remaja, saudara-saudari terlihat gembira dan antusias mengikuti kegiatan ini. Kali ini KPH. Purbodiningrat juga berkenan memberikan beberapa Doorprize kepada peserta dan memberikan sambutan. “GKJ. Patalan adalah bagian dari komponen masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki peran yang cukup penting dalam menciptakan komunitas yang aman, damai dan kondusif” kata KPH Purbodiningrat dalam sambutannya. “dan ini adalah bentuk pluralisme yang harus kita jaga.” lanjutnya menegaskan.

Pada akhirnya disela-sela kegiatan itu ia berharap “kegiatan ini akan mengukuhkan peran Bantul sebagai kota agamis,” dan “GKJ. Patalan telah menempuh upaya merekatkan semangat persatuan dan kesatuan”.

Ignatius Wahono “Guru yang Ngethoprak”

KPH. Purbodiningrat saat berkunjung kerumah Ign. Wahono

Ign. Wahono kedua dari kanan bersama KPH. Purbodiningrat ketiga dari kanan

Ignatius Wahono bagi para pencinta kesenian tradisional ketoprak di Yogyakarta sudah tidak asing lagi. Walau di usia senjanya, ia memang tak lagi ngetoprak, namun sesekali ia masih menggeluti dunianya.

Lelaki santun ini berketoprak sejak l966. Pada awal karirnya Wahono pernah membentuk perkumpulan karawitan yang bernama “Tunggal Jiwa”. Kelompok kesenian ini biasanya mengiringi pementasan kethoprak. Dari situlah Wahono banyak mengenal dunia seni peran, hingga akhirnya pada tahun 1965, Wahono benar-benar terjun menjadi pemain kethoprak.

Grup yang pertama kali diikutinya adalah “Irama Masa” yang berada di daerah Bantul (1965-1969). Pada tahun 1969 Wahono pindah ke grup yang bernama “Budi Rahayu”. Di grup ini dia bertahan dua tahun saja, sebelum akhirnya pindah ke grup Sapta Mandala milik Kodam VII/Diponegoro. Ilmu dalam dunia seni peran banyak didapatkan Wahono dari keikutsertaannya pada berbagai perkumpulan kesenian tersebut.

Dalam kethoprak dia sering dipercaya untuk memerankan tokoh-tokoh adipati, kakek-kakek, patih dan resi. Sekali waktu, Wahono pernah diminta memerankan tokoh Sunan Kudus dalam lakon Arya Penangsang. Padahal, ia tidak hafal dan kurang bisa menghayati tokoh Islam tersebut. Namun, setelah dijalani dengan ikhlas, justru teman-teman mainnya menganggap baik. “Malah dianggap sebagai hal baru dalam berketoprak,” katanya.

Semasa kanak-kanak, sebenarnya ia lebih tertarik pada kesenian wayang kulit dan karawitan. Baru setelah berketoprak, ia sering diberi peran sebagai orangtua yang bijak. “Banyak hal bisa disampaikan lewat ketoprak,” tutur bapak empat anak yang beristrikan Agustina Ponijah ini.

Wahono juga pernah mendapat penghargaan dari Pemerintah DIY, yakni dari Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono X pada tahun 1999-2000. “Setelah tua sekarang saya jadi konsultan atau pelatih ketoprak, terkadang juga ditunjuk jadi juri ketoprak,” tutur Wahono pada KPH. Purbodiningrat saat bersilaturahmi memberikan penghargaan kebudayaan di rumahnya di dusun Kembaran Kasihan Bantul.

Sebelum terjun ke dunia ketoprak, ia berprofesi sebagai guru SD Negeri di Bantul (l956). Lalu, ia pindah mengajar di Padokan. Ia sempat menjadi kepala sekolah di Bibis, Bantul (l981-l986). Selanjutnya, ia menjadi penilik kebudayaan. “Saya juga sempat membantu mengajar di SMKI Bantul selama tiga tahun,” tutur pensiunan pegawai Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta ini.

Setelah tidak berketoprak lagi, kini Wahono menekuni dunia MC berbahasa Jawa. Mulanya memang hanya dipraktikkan di lingkungan desanya saat ada hajatan supitan (sunatan), manten, atau pemberangkatan kematian jenazah. Almarhum Bagong Kussudiarjo yang “mempromosikan” dirinya sebagai MC pertama kali, ketika seniman tari itu mantu anak pertamanya, Ida. “Saat itu saya dipaksa. Padahal, saya bukan MC yang bagus. Style saya sederhana, tapi justru gaya Yogya inilah yang saya ajarkan kepada para peserta kursus MC,” tuturnya.

Saat ini Ign. Wahono mudah dijumpai di Rumah Budaya Tembi, Bantul. Ia ditugaskan menjaga museum sekaligus menjadi Tutor kursus MC bahasa Jawa.

Anas Urbaningrum Bisa Saja Jadi ‘Justice Collaborator’

Penulis : Icha Rastika | Senin, 25 Februari 2013 | 19:31 WIB

anas-urbaningrumJAKARTA, KOMPAS.com  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mempersilakan mantan Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum untuk buka-bukaan mengenai kasus korupsi yang diketahuinya. Bahkan, Anas bisa saja menjadi justice collaboratoratau pelaku yang bekerja sama dengan penegak hukum.

“Saya berterima kasih kalau ada pihak-pihak yang membantu KPK, siapa pun dia, untuk bisa mengungkap lebih jelas banyak hal terkait kasus Hambalang. Silakan kalau punya data atau informasi, tentu akan divalidasi KPK,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi, di Jakarta, Senin (25/2/2013).

Menurut Johan, Anas bahkan bisa saja menjadi justice collaborator asal memenuhi sejumlah kriteria yang ditetapkan KPK bersama Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, kepolisian, serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Salah satu kriteria yang harus dipenuhi untuk dapat menjadi justice collaborator, sebut Johan, adalah orang tersebut mengakui tindak pidana yang dituduhkan kepadanya. Selain itu, orang tersebut harus mengungkapkan data yang akurat seusai dengan kasus yang tengah diusut KPK atau informasi mengenai pihak-pihak lain yang dianggapnya terlibat.

Namun, Johan juga menegaskan KPK tidak dalam posisi mengimbau atau meminta seorang tersangka sebagai justice collaborator. Menurut dia, seseorang menjalankan peran itu harus didorong kemauannya sendiri. “Effort-nya ada pada tersangka, mau melakukannya atau tidak. KPK tidak dalam posisi mengimbau atau meminta,” ujarnya.

KPK menetapkan Anas sebagai tersangka atas dugaan menerima pemberian hadiah atau janji terkait proyek Hambalang dan proyek-proyek lainnya. Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Anas menyatakan berhenti dari jabatan Ketua Umum Partai Demokrat.

Mantan Wakil Direktur Eksekutif DPP Partai Demokrat Muhammad Rahmad mengungkapkan, Anas bertekad untuk berdiri di barisan terdepan dalam penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, apalagi Anas diyakini punya data terkait penyelewengan sejumlah kasus, termasuk dana talangan Rp 6,7 triliun untuk Bank Century.

Mengenai janji Anas membongkar kasus di luar Hambalang, Johan pun mempersilakannya. “Semua data yang dia ketahui bisa divalidasi di penyelidikan yang lain, digunakan KPK untuk pengusutan lebih lanjut. Silakan saja, biasanya dalam pemeriksaan itu kan di akhir nanti ditanyakan (apakah) masih ada yang perlu diinformasikan kepada kami,” ujar Johan.

Editor : Palupi Annisa Auliani

Sumber http://nasional.kompas.com/read/2013/02/25/19314114/Anas.Urbaningrum.Bisa.Saja.Jadi.Justice.Collaborator?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

 

SENAM JOGJA ISTIMEWA BERSAMA KPH. PURBODININGRAT di GIRIMULYO KULON PROGO

Senam Jogja Istimewa di Kulon ProgoTak kurang 800 warga memadati halaman Kelurahan Girimulyo untuk mengikuti senam bersama yang digelar  LPM. Suluh Desa di Girimulyo Kulon Progo Minggu . (10/2/2013). Suara musik senam membuat warga yang terdiri atas kaum perempuan muda dan orangtua, larut dalam gerak senam Angguk yang menjadi icon Kulon Progo. Peserta senam, kebanyakan adalah kaum perempuan yang memang aktif dalam kelompok-kelompok senam di wilayah itu.

“Program ini akan bergulir selama tahun 2013, kita akan menggelar senam masal ke kampong-kampung,” jelas KPH. Purbodiningrat selaku ketua LPM. Suluh Desa kepada swara keistimewaan disela-sela kegiatan itu. Sementara Sarmi 37, salah seorang peserta senam asal Dusun Pring Tali, mengungkapkan badan terasa lebih segar setelah mengikuti senam. “Hadiahnya juga menarik” Katanya sambil tersenyum.

Selain senam, katanya, juga diadakan pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan untuk waktu yang berbeda, seperti yang sudah dilakukan di Sedayu Bantul pada Minggu sebelumnya. Kegiatan itu bertujuan menumbuhkan kebersamaan peserta terhadap sesama.

“Insya Allah, dengan disyahkannya UU Keistimewaan Yogyakarta, Seni dan Budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta pada umumnya dan di Kulon Progo pada khususnya bisa semakin regeng seperti halnya dengan munculnya Senam Angguk yang menjadi Icon Kulon Progo ini” Tutur KPH Purbodiningrat dalam sambutannya, “Tujuan kami cuma satu: bersama-sama dengan masyarakat, Membangun Daerah Istimewa Yogyakarta untuk kesejahteraan Rakyat. Melalui kebersamaan pemimpin dan warga, Jogja Tetap Istimewa menuju kejayaan didepan..” Imbuhnya bersemangat.
Di sisi lain, kehadiran KPH. Purbodiningrat bersama GKR. Maduretno mendapat sambutan hangat dari warga yang hadir. Purwanti (42), salah seorang peserta senam mengaku sangat bangga dan senang bisa bertemu dan berdialog langsung dengan keluarga Kraton Yogyakarta ini. Menurutnya, sosok GKR. Maduretno dan KPH Purbodiningrat begitu bersahaja, sebagai putra Raja mau turun langsung bahkan senam bersama rakyat.

“Saya sangat senang dan merasa bangga bisa bertemu langsung dengan keluarga Kraton Yogyakarta, pokoknya Jogja memang Istimewa,” ungkap Sum.

Seusai senam, digelar pengundian kupon peserta untuk memperebutkan aneka hadiah. Wakil Bupati Kulon Progo yang juga turut hadir memeriahkan kegiatan inipun didaulat untuk mengambil undian dan menyampaikan hadiah.

 

Menyongsong Hari Ibu di Kampung Dukuh, Banyuraden, Gamping, Sleman

Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk mengenang dan menghargai perjuangan kaum perempuan Indonesia.

Hari Ibu yang  diperingati setiap 22 Desember memiliki arti betapa besarnya peranan para ibu dalam membangun kemandirian bangsa. Sehingga kemajuan suatu bangsa merupakan bagian dari andil para ibu. Sebab, kesuksesan kaum lelaki (suami) biasanya selalu ada peran wanita (istri) di sampingnya. Kesuksesan anak berkat sentuhan kasih sayang ibu.

Ikrar para pejuang perempuan pada Kongres Perempuan Indonesia 22 Desember 1928 di Yogyakarta merupakan tonggak sejarah diperingatinya Hari Ibu berdasarkan Keppres Nomor 316 tahun 1959.

Mengingati Hari Ibu merupakan momentum untuk menyadarkan kembali tanggung jawab perempuan terhadap masyarakat dan keluarga. Serta melakukan introspeksi untuk mengevaluasi dan mengapresiasi apa-apa yang sudah dicapai saat ini untuk mewujudkan kesetaraan gender dan peningkatan kualitas hidup perempuan, meraih pendidikan tinggi. Oleh karena itu jangan sampai peringatan Hari Ibu hanya sebatas upacara belaka, tanpa arti, sehingga terkesan sia-sia.

Untuk itu peringatan Hari Ibu harus diisi dengan berbagai kegiatan yang dapat memotivasi kaum ibu untuk lebih berkembang dan memberi adil dalam kemajuan kaum wanita Indonesia.

Seperti yang dilakukan oleh Ibu-ibu PKK Dukuh, Banyuraden, Gamping. Dalam Menyongsong/Menyambut Peringatan Hari ibu kali ini membuat kegiatan jalan santai. dan pada kegiatan ini pula, juga dibagikan beberapa penghargaan kepada para Lansia. “Wah, jalan pagi itu menyehatkan badan, sudah seharusnya kita menjalaninya” Ujar mBah Atemo, “Eee, kok malah dapat hadiah” lanjut  penerima penghargaan itu.

Sementara bu Haryono selaku panitia menguraikan, “Kegiatan ini sengaja kita delenggarakan lebih awal, karena kami berharap, pada saat Dhul/ Hari H bisa lebih merasakan dalam peringatan hari ibu ini.

Parikan Parikeno mBah mBoel

Parikan parikeno

Tuku Pecel nang pingir kali,

Ono Iwak welut ono iwak lele.

Marahi mangkel nglarani ati,

Opo njaluk gelut wae.

(kiraman dari: mBokne Dhama, Gamping)

 

Kulon banyu wetan banyu

Arep liwat diluntung celanane

Nek ora melu koq rasane saru

Kabeh rakyat ndukung Sultane

Kiriman dari : Jiyono, Jetis,Bantul)

 

Tuku blangkon neng Malioboro

Nggowo nyamikan bakpia Pathuk

Dadi wong Jogja kudu waspodo

Penetapan pancen sing mathuk

(Kiriman dari : Eka Minarta, Gunungkidul)

 

Kaos kotangan

Nganggo sarung

Penetapan

Kudu didukung

(Kiriman dari : Slamet, Sindutan, Temon, KUlonprogo)

 

Kembang suket mekare sore

Nek disawang sajak nengsemake

Wis mumet mergo suwe

Ditambahi arep mundak bensine

(Kiriman dari : Hanafi Kobis, Jalan Palagan Sleman)

 

Manuk doro menclok neng cagak

Diplintheng kena swiwine

Senajan rondo tetep berpihak

Penetapan wis sak mesthine

( Kiriman dari : Sopyan, Bakule Burjo Pasar Sepeda Umbulharjo)

 

Kebul tepasan

Jagung bakare

Ora penetapan

Tanggung akibate

(Kiriman dari : Darmono, Pasar Klithikan Kuncen, Los Gitar)

Makam Raja-raja Imogiri

Tangga Makam Raja ImogiriPajimatan Imogiri merupakan makam raja-raja Mataram (Surakarta dan Yogyakarta) yang terletak 17 kilometer ke arah selatan dari Kota Yogyakarta melalui Jalan Pramuka – Imogiri. Di kawasan itu bagi warga masyarakat disediakan lapangan parkir yang terletak di sebelah barat gerbang masuk sebelum naik tangga. Sedangkan bagi kerabat istana dan tamu VIP disediakan parkir di bagian atas mendekati makam sehingga tidak perlu meniti tangga. Mitos setempat menyatakan bahwa barang siapa bisa menghitung jumlah tangga secara benar (jumlahnya ada 345 anak tangga) maka cita-citanya akan terkabul. Tata cara memasuki makam di tempat itu sama dengan di Astana Kotagede, dimana setiap pengunjung diharuskan memakai pakaian tradisonil Mataram, pria harus mengenakan pakaian peranakan berupa beskap berwarna hitam atau biru tua bergaris-garis, tanpa memakai keris, atau hanya memakai kain/jarit tanpa baju. Sedangkan bagi wanita harus mengenakan kemben.

Kompleks Makam Raja-raja di ImogiriPerlu diketahui bahwa selama berziarah pengunjung tidak diperkenankan memakai perhiasan. Bagi para peziarah yang tidak mempersiapkan pakaian dimaksud dari rumah bisa menyewa pada abdi dalem sebelum memasuki komplek makam. Bagi kerabat istana khususnya putra-putri raja ada peraturan tersendiri, pria memakai beskap tanpa keris, puteri dewasa mengenakan kebaya dengan ukel tekuk, sedangkan puteri yang masih kecil memakai sabuk wolo ukel konde.

Menurut buku Riwayat Pasarean Imogiri Mataram, Makam Imogiri memang sejak awal telah disiapkan oleh Sultan Agung dengan susah payah. Diceritakan Sultan Agung yang sakti itu setiap Jumat sholat di Mekkah, dan akhirnya ia merasa tertarik untuk dimakamkan di Mekkah. Namun karena berbagai alasan keinginan tersebut ditolak dengan halus oleh Pejabat Agama di Mekkah, sebagai gantinya ia memperoleh segenggam pasir dari Mekkah. Sultan Agung disarankan untuk melempar pasir tersebut ke tanah Jawa, dimana pasir itu jatuh maka di tempat itulah yang akan menjadi makam Sultan Agung. Pasir tersebut jatuh di Giriloyo, tetapi di sana Pamannya, Gusti Pangeran Juminah (Sultan Cirebon) telah menunggu dan meminta untuk dimakamkan di tempat itu. Sultan Agung marah dan meminta Sultan Cirebon untuk segera meninggal, maka wafatlah ia. Selanjutnya pasir tersebut dilemparkan kembali oleh Sultan Agung dan jatuh di Pegunungan Merak yang kini menjadi makam Imogiri.

Masjid di Makam ImogiriRaja-raja Mataram yang dimakamkan di tempat itu antara lain : Sultan Agung Hanyakrakusuma, Sri Ratu Batang, Amangkurat Amral, Amangkurat Mas, Paku Buwana I, Amangkurat Jawi, Paku Buwana II s/d Paku Buwana XI. Sedangkan dari Kasultanan Yogyakarta antara lain : Hamengku Buwana I s/d Hamengku Buwana IX, kecuali HB II yang dimakamkan di Astana Kotagede. Dikutib dari http://www.tembi.org/mataram/mataram09.htm

Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Mengenal Sri Sultan HB IX

Sri Sultan Hamengkubuwono IX pahlawan nasional sekaligus tokoh paling berpengaruh terutama di wilayah kesultanan Yogyakarta. Dilahirkan dengan nama Bendoro Raden Mas Dorodjatun. Beliau putra dari Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dan Raden Ajeng Kustilah dan lahir pada 12 April 1912 di Sompilan Ngasem, Yogyakarta.

Sebagai keturunan langsung Sultan Yogyakarta tanggal18 Maret 1940 ia dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga”. Ia adalah salah seorang Sultan yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta (1940-1988) dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973-1978. Ia juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Ia merupakan sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat “Istimewa”. Sebelum dinobatkan, Sultan yang berusia 28 tahun bernegosiasi secara alot selama 4 bulan dengan diplomat senior Belanda Dr. Lucien Adams mengenai otonomi Yogyakarta. Di masa Jepang, Sultan melarang pengiriman romusha dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram. Sultan bersama Paku Alam IX adalah penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri ke Republik Indonesia. Sultan pulalah yang mengundang Presiden untuk memimpin dari Yogyakarta setelah Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda I. Beliau juga tokoh yang sangan berperan dalam peristiwa serangan umum 1 Maret 1949. Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin. Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN.

Riwayat Pendidikan 

  • Taman kanak-kanak atau Frobel School asuhan Juffrouw Willer di Bintaran Kidul
  • Eerste Europese Lagere School (1925)
  • Hogere Burger School (HBS, setingkat SMP dan SMU) di Semarang dan Bandung (1931)
  • Rijkuniversiteit Leiden, jurusan Indologie (ilmu tentang Indonesia) kemudian ekonomi

Karir

  • Kepala dan Gubernur Militer Daerah Istimewa Yogyakarta (1945)
  • Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947)
  • Menteri Negara pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II (3 Juli 1947 – 11 November 1947 dan 11 November 1947 – 28 Januari 1948)
  • Menteri Negara pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 – 4 Agustus 1949)
  • Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 – 20 Desember 1949)
  • Menteri Pertahanan pada masa RIS (20 Desember 1949 – 6 September 1950)
  • Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Natsir (6 September 1950 – 27 April 1951)
  • Ketua Dewan Kurator Universitas Gajah Mada Yogyakarta (1951)
  • Ketua Dewan Pariwisata Indonesia (1956)
  • Ketua Sidang ke 4 ECAFE (Economic Commision for Asia and the Far East) dan Ketua Pertemuan Regional ke 11 Panitia Konsultatif Colombo Plan (1957)
  • Ketua Federasi ASEAN Games (1958)
  • Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (5 Juli 1959)
  • Ketua Delegasi Indonesia dalam pertemuan PBB tentang Perjalanan dan Pariwisata (1963)
  • Menteri Koordinator Pembangunan (21 Februari 1966)
  • Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi 11 (Maret 1966)
  • Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1968)
  • Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia/KONI (1968)
  • Ketua Delegasi Indonesia di Konferensi Pasific Area Travel Association (PATA) di California, Amerika Serikat (1968)
  • Wakil Presiden Indonesia (25 Maret 1973 – 23 Maret 1978)

Hamengkubuwana IX diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia tanggal 8 Juni 2003 oleh presiden Megawati Soekarnoputri.  Sultan Hamengku Buwana IX juga  tercatat sebagai Gubernur terlama yang menjabat di Indonesia antara 1945-1988 dan Raja Kesultanan Yogyakarta terlama antara 1940-1988. Pada 2 Oktober 1988, ia wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia.

Dikutib dari Biografi Tokoh Dunia: http://www.biografitokohdunia.com/2011/02/biografi-sri-sultan-hamengkubuwono-ix.html